Menjelang usainya sebuah liburan, biasanya kita melihat beberapa rekan menuliskan status facebook atau twitter yang menyayangkan cepatnya liburan usai atau cepatnya semester baru dimulai. Satu kalimat penyayangan (saya ga bilang keluhan, karena saya yakin rekan-rekan saya bukan pengeluh) yang seringkali muncul adalah:
"Kembali ke kenyataan" atau "Kembali ke dunia nyata"
Bukannya salah, tapi menurut saya aneh menganggap bahwa kuliah adalah "dunia nyata".
Memang kita berhenti menjalani rutinitas, tempat yang kita datangi berbeda, orang yang kita temui juga berbeda, tapi pada dasarnya kita masih ada di dunia yang sama, di bumi, tidak pindah ke Mars atau Venus jika berbicara tentang dunia astronomis dan tidak pindah ke surga atau nirwana jika berbicara dunia eskatologis.
Dan kenapa harus "kenyataan" atau "dunia nyata"?
Apakah karena kata "nyata" mempunyai konotasi buruk, susah, mengecewakan, terkekang, atau sejenisnya dan kita menganggap masa libur yang bebas dan tanpa beban sebagai "mimpi"?
Kenyataan untuk saya adalah sesuatu yang saya jalani sekarang, bisa saja baik, bisa saja buruk. Sementara mimpi adalah sesuatu yang kita inginkan, dan seperti mimpi dalam tidur bisa saja sesuatu yang kita inginkan justru lebih buruk dari kenyataan. Sedih rasanya melihat banyak orang menggunakan kata "nyata" dengan konotasi pesimis padahal sebenarnya kenyataan yang mereka jalani tidak buruk-buruk amat.
Dan jika bersikeras bahwa perkuliahan itu adalah "kenyataan", coba ingat lagi: waktu kita SMA, kuliah itu mimpi kita bukan?
Tulisan ini ga bermaksud untuk menyalahkan atau menggurui, bermaksud memberi motivasi pun tidak. Cuma ingin membagi pikiran saja.
0 komentar:
Poskan Komentar