08 Juni 2009

Pepohonan dan Alam Liar

Sabtu kemaren gue baru beli CDnya The Trees and The Wild and it's as cool as I expect.
Album terbaru mereka, Rasuk, terdiri dari 11 track dan 10 lagu.

Dan sekarang bagian favorit gue: membuat karangan dari lagu-lagu di satu album.

Bayangkan di track pertama . [ya, judulnya adalah "."] anda ditarik dari peradaban untuk menjelajahi hutan belantara dan alam rimba. Memang pada awalnya menyeramkan, tetapi pada akhir lagu anda tiba-tiba didorong memasuki Verdure yang meledak, tenang, perlahan mengencang dan menderu, lalu senyap. Anda pun memasuki Honeymoon on Ice yang seperti namanya, dingin. Tapi jangan tertidur atau putus asa, karena Irish Girl yang intronya agak jazzy akan mengajak anda berdansa lengkap didukung dengan biola, snare drum, dan di satu setengah menit terakhir ikut lah ber-parapapapa-ria sambil mencoba sedikit Irish Dancing.
Setelah sedikit bergerak Malino mengajak anda untuk duduk tenang, mungkin dengan sahabat, lalu saling bersandar tanpa suara. Namun sesaat sebelum lagu selesai berdirilah dan carilah padang ilalang yang berada di tepi sawah dan berjalan lah perlahan sambil merasakan ujung ilalang atau malah mungkin berbaring saja sambil memandang matahari karena Our Roots [favorit saya sejauh ini] benar-benar menyatakan akar kita dengan permainan gitar yang terpengaruh keroncong dan - di telinga saya - lagu tradisional sunda.
Tapi jangan terbuai karena Berlin menyampaikan keresahan dan penantian di kala senj, sekaligus memperingatkan kedatangan The Noble Savage yang akan tiba dengan topeng pembuka yang merayu di kala malam. Sekali lagi jangan terkecoh topengnya yang indah, si buas ini akan melolong di akhir sebelum menyerah padam. Setelah itu yang tersisa hanyalah Derau dan Kesalahan, dan penat. Karena itu berteriakalah dan jadikan kesalahan serta kepenatan sebagai ajaran hari ini, berteriak lah "HEI" dan lakukanlah tarian kecil kepenatan sebelum tiba-tiba Fight The Future datang dengan melodi yang familiar, membuat kita terbawa musik yang terasa tidak asing karena setiap hari kita lihat dan dengar di televisi dan radio. Namun jangan anggap ini sebagai musik cetakan mesin yang semuanya seragam dan diisi tangisan karena para backing vocal yang tertawa di akhir tidak mungkin membawakan lagu cengeng tentang masa depan percintaan yang suram.
Di akhir semua itu, Kata menyampaikan pesan dengan kelam bahwa pemaafan adalah sumber keabadian sebelum mengirim anda kembali ke kotak beton anda yang nyaman diiringi kecapi dan gong, [atau mungkin glockenspiel?].

Anyway, I really suggest you buying this. DI aksara ga ada, tapi di toko-toko biasa kayak Societe atau Disc Tarra ada kok. Not just the music, but the artwork is something to collect too.

0 komentar: