23 Januari 2011

Mimpi atau Nyata?

Menjelang usainya sebuah liburan, biasanya kita melihat beberapa rekan menuliskan status facebook atau twitter yang menyayangkan cepatnya liburan usai atau cepatnya semester baru dimulai. Satu kalimat penyayangan (saya ga bilang keluhan, karena saya yakin rekan-rekan saya bukan pengeluh) yang seringkali muncul adalah:

"Kembali ke kenyataan" atau "Kembali ke dunia nyata"

Bukannya salah, tapi menurut saya aneh menganggap bahwa kuliah adalah "dunia nyata".

Memang kita berhenti menjalani rutinitas, tempat yang kita datangi berbeda, orang yang kita temui juga berbeda, tapi pada dasarnya kita masih ada di dunia yang sama, di bumi, tidak pindah ke Mars atau Venus jika berbicara tentang dunia astronomis dan tidak pindah ke surga atau nirwana jika berbicara dunia eskatologis.

Dan kenapa harus "kenyataan" atau "dunia nyata"?

Apakah karena kata "nyata" mempunyai konotasi buruk, susah, mengecewakan, terkekang, atau sejenisnya dan kita menganggap masa libur yang bebas dan tanpa beban sebagai "mimpi"?

Kenyataan untuk saya adalah sesuatu yang saya jalani sekarang, bisa saja baik, bisa saja buruk. Sementara mimpi adalah sesuatu yang kita inginkan, dan seperti mimpi dalam tidur bisa saja sesuatu yang kita inginkan justru lebih buruk dari kenyataan. Sedih rasanya melihat banyak orang menggunakan kata "nyata" dengan konotasi pesimis padahal sebenarnya kenyataan yang mereka jalani tidak buruk-buruk amat.

Dan jika bersikeras bahwa perkuliahan itu adalah "kenyataan", coba ingat lagi: waktu kita SMA, kuliah itu mimpi kita bukan?

Tulisan ini ga bermaksud untuk menyalahkan atau menggurui, bermaksud memberi motivasi pun tidak. Cuma ingin membagi pikiran saja.

06 September 2010

Bulan Madu dan Latar Belakangnya

Kurang lebih dua tahun yang lalu, waktu gue masih botak dan berseragam putih abu-abu guru BK ngasih pertanyaan "Apa kalian sudah punya bayangan akan kuliah dimana?". Beberapa temen gue langsung menyebutkan UI, ITB, atau UGM, beberapa lagi malah lebih spesifik dan bilang FKUI. Gue sendiri waktu itu masih asyik mimpi dapet beasiswa ke Oxford atau Harvard atau universitas mahal di tempat bersalju lainnya. Masalah jurusan? Apa aja yang penting ga ngitung (dokter termasuk), karena entah kenapa otak kiri gue lemah syahwat sehingga berhitung adalah hal yang susah banget buat gue.

Skip setahun kemudian.

Gue masuk IPS, tapi masih bingung ingin apa. Di urutan paling atas ada HI disusul oleh berbagai jenis sastra dari Inggris sampai Indonesia, setelah itu baru jurusan-jurusan "mainstream" seperti hukum dan ekonomi.
Kenapa demikian? Dari kecil gue punya impian tinggal di luar negeri. Bukan karena benci Indonesia (gue cinta banget sama tanah air bung) tapi karena gue ingin melihat dunia. Dari kecil gue paling seneng diajak jalan-jalan. Entah ke gunung, laut, kota, hutan, yang penting jalan-jalan. Alasan inilah yang membuat gue memilih fakultas-fakultas tersebut karena menurut gue pekerja di bidang-bidang itu memiliki kesempatan lebih besar untuk pindah ke luar negeri.
Tapi karena orangtua menganggap kuliah sastra tidak menjanjikan pekerjaan yang bisa menafkahi anak istri dan gue gak yakin bisa masuk HI yang kalau di UI presentase penerimaannya lebih susah dari FK, maka gue mencari alternatif: FSRD.

Gue kurang tau kenapa gue milih alternatif ini, gue ga bisa gambar dan ga suka gambar, keluarga gue ga ada yang seniman atau bekerja di industri kreatif, hal yang "nyeni" dari gue cuma gue suka fotografi dan ngeliat gambar atau lukisan di internet. Tapi entah kenapa gue yakin kalau gue gagal di jalur diplomasi, jalur seni lah yang akan ngebawa gue ke impian gue: tinggal di luar negeri. Untungnya orangtua malah jauh lebih semangat daripada gue dengan ide ini, dengan syarat gue masuknya di FSRD ITB. Maka dari semester dua kelas sebelas gue les gambar, awalnya males-malesan karena gue juga belum ingin-ingin amat. Tapi pas kelas 12, bokap gue nemuin sebuah tempat les gambar di Bogor. Gue dengan setengah dipaksa masuk ke situ. Gue pikir "apa banget lah, les di ujung dunia kayak gini.". Tapi lama-kelamaan gue betah disana, pengajarnya asik, temen-temennya lebih asik lagi. Disana gue mendapat motivasi yang makin tinggi untuk masuk FSRD. Makin hari keinginan gue untuk masuk FSRD ITB makin tinggi, biar HI UI masih jadi pilihan.

Awal 2010, semua anak kelas 12 heboh tes universitas. Gue termasuk dari mereka, tapi sementara beberapa temen gue sibuk daftar sana-sini gue cuma daftar ke dua universitas: ITB dan UI (sebenernya BinAl juga sih, tapi cuma beli form doang abis itu ilfeel liat harganya). Alasan utamanya males beli formulir mahal-mahal, alasan keduanya males belajar berkali-kali, alesan ketiganya kasian orang lain yang mestinya bisa lolos tapi "kehalangan" gue padahal belum tentu gue ambil jatah bangkunya (PD gila).

Singkat cerita, gue keterima di ITB dan UI. Tapi karena di UI gue keterimanya di FIKOM jadi gue pilih FSRD. Pindah ke Bandung, ngekos, belajar mandiri walau hampir tiap minggu pulang.

Pertama ketemu teman-teman seangkatan di FSRD, gue kaget. Gue udah nyangka kualitas gambar gue bakal jauuuuuuh di bawah rata-rata, gue juga udah nyangka akan ketemu orang-orang aneh dalam berbagai bentuk dan ukuran. Tapi tetep aja gue kaget. Hal yang paling gue tangkep pas pertama kali ketemu mereka adalah: disini, hal-hal yang waktu SMA lo anggap unik, langka, aneh, atau malah absurd akan menjadi lumrah dan sehari-hari.
Dan bener aja, hanya dalam sebulan gue udah jadi banci bareng angkatan, ngeliat Darth Vader breakdance, jadi patung di dalem mall, ngeliat orang jawa striptease, belajar nyablon, bahkan ngeliat ketua angkatan gue dimakan suku kanibal

Gue belum tau apakah jalan ini, jalan melalui FSRD ITB ini, yang akan ngebawa gue ke mimpi gue, apakah jalan ini lebih mulus dari jalan-jalan lain yang dulu bisa gue pilih. Tapi yang jelas gue tau kalau jalan ini akan memberi gue lebih banyak kejutan dan pengalaman seru dibanding semua jalan lain. Yeah!

05 September 2010

Ibarat Film, Ini Flash Forward

Bukan Flashback
Bayangkan saja blog ini seperti film yang loncat satu tahun kedepan.

Dalam post ini gue akan merangkum 10 bulan 26 hari yang ga gue tulis.

Tahun baru seru, putus, lulus SMA, keterima di FSRD ITB, backpacking ke Lombok, Umrah, pindah ke Bandung, bulan pertama kuliah.

10 Oktober 2009

Untuk Kamu

Halo
Aku ingin bertemu
Beraktifitas bersamamu
mengokang leica, mencuri mangga, melempar lumpur, berburu belalang, memakan hati

Kamu
Lama tak bersua
Teriakanku padamu,
Meretas luka, merintih rindu, merobek pilu, rayuan gagu, igauan bisu

Polahmu
Yang kemayu tapi tak lugu
Yang maskulin tapi tidak dingin
Mengajak canda, mengolah tawa, merusak duka, berulah jenaka, terucap suka

Disitu
Ingin bertemu
Membuang waktu
Pohon tua, hutan kota, dermaga reot, lapangan bata, pasar remaja

Diriku
Mengutuk sendu
Karena tanpamu
Berambut lumut, makanan semut, kelana durjana, tunggal.

ya ini untuk teman-teman saya, kalo ga ngerti maksudnya: saya bahagia kenal orang seperti anda semua, dan saya harap anda semua bahagia mengenal saya.

30 September 2009

Injected, Fully-Injected

Last Sunday, I was having a Photoshoot with some friends.Dival, Rizka, Axel, and me are taking pictures of a band of friends (they're all our mutual friends) named Rockadelic Full Injection, and of course there's Elin and Mia as our Tim Hura-Hura! The band is influenced by good old fashioned rock and roll acts such as Aerosmith, Guns and Roses, and Led Zeppelins. When I was in JHS I used to play in a band with some of the members, and I could tell you that they're a musical genius (unlike me who dropped my dream of being a pianist :p)

Image and video hosting by TinyPic
This is Poska Ariadana, he plays the bass and he likes to sing. He's single and searching, and searching, and searching . . .


Image and video hosting by TinyPic
Ernas "Dogi" Aziz is the Rhythm Guitarist and the so-called "assets of the band" because his face makes the ladies tingle. He's single but his heart is taken (by who? don't ask, dunno either hahaha)


Image and video hosting by TinyPic
Muh. Harsyadika is the lead guitarist. He may not looks like Jimmy Hendrix, but I'll bet my virgin arse that in the future he'll be one of most remembered Indonesian guitarist. Oh, and sorry ladies, he's happily taken.


Image and video hosting by TinyPic
Banu Wirandoko is the percussionist, his easy-going attitude may fools you but this guy will pound your ears with his beats. Single and (I think) happy with it.


Image and video hosting by TinyPic
I'd love to accept some critics and comments about the pictures. I think photoshop-ized black and white cant replace the real thing, but how do you think about my pictures?

28 September 2009

Like A Clean Slate

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Happy Ied! I hope for your kind forgiveness for all my past mistakes, intended or not :)
I know it's already the tenth day of Idul Fitri, but hey! It's always better late than never!

13 September 2009

The Time Traveler's Guide to Indonesia, Chapter 1: Jakarta

Hello and thank you for buying the first volume of The Time Traveler's Guide to Indonesia
On this session, we'll review the preface and the first chapter: Djakarta


First, some words from The Government which is led by the bright and brave Mr. Soekarno and his trusty sidekick Mr. Hatta


We provide you with a map so you won't got lost in mid-20th century Djakarta (form. Batavia)
Please keep in mind that the Time Portal is just right off the map's boundary on the right side of Djalan Pertoekangan


if you're coming from the same time, there's an aeroport in the city. Please bear that the standards aren't as high as other country in the same time region


Djakarta is a metropolis with residents from all places and time. You won't have any difficulties to blend in regardless your time (or place) of origin.


The city have a collection of shopping centre, ranging from ridiculously cheap to unbelievably expensive. You could buy anything technologically relevant to the period here. Sadly, time-traveling postal service is banned by the current government.
(click for bigger picture)


A photograph of Passer Baroe, the most forward and prestigious place to shop in town.


Djakarta is famous for it's seaside and seafood. Visitors may take a walk and a dip at Tjilinjing or Antjol. Indoor-oriented travelers might be interested on watching movies in one of the city's cinema.
(click for bigger picture)


We'd like to remind you that the speech of Djakartans at this era is different from the speech of Jakartans in our time-travelling era. For that reason we've provide you with this basic phrasebook.
(click for bigger picture)


This book was printed by Urashima Publishing under the name of Pertjetakan Negara in 1956

We hope you'll be interested in acquiring the book and please stay tuned for the second chapter's review.